Pelajaran 70 : Serial Baca Kitab Tak Berharokat (bagian 8)

Rahasia kedelapan:

Semua kata yang karakteristiknya seperti ini:

– terdiri dari 6 huruf
– huruf ketiganya ALIF
– huruf kedua sebelum terakhirnya YA,

seperti ini:
مفاهيم

maka bacaannya adalah : mafaahiimu atau mafaahiim

demikian juga dengan kata-kata di bawah ini:

 

مقاييس, أحاديث, قوارير, قوانين

bacanya jangun ragu, pasti begini:

maqaayiis (standar-standar)
ahaadiits (hadits-hadits)
qawaariir (kaca-kaca)
qawaaniin (undang-undang)

 

semuanya bermakna Jamak (plural)

~~~
~~~

Sila tebar manfaat ilmu ini.

Wassalaam

 

Pelajaran 69 : Serial Baca Kitab Tak Berharokat (bagian 7)

Rahasia ketujuh:

Semua kata yang karakteristiknya seperti ini:
– terdiri dari 7 huruf
– huruf pertama dan kelimanya adalah ALIF
– huruf terakhirnya adalah Ta Marbuthah

seperti ini: 👇🏻
استقامة

maka bacaannya adalah : istiqaamatun atau istiqaamah

demikian juga dengan kata-kata di bawah ini:

 

استراحة, استغاثة, استخارة

bacanya jangun ragu, pasti begini:
istiraahah
istigaatsah
istikhaarah

~~~
~~~

Sila tebar manfaat ilmu ini.

Wassalaam

 

Pelajaran 68 : Serial Baca Kitab Tak Berharokat (bagian 6)

Rahasia keeenam:

Semua kata yang karakteristiknya seperti ini:

– terdiri dari 5 huruf
– huruf pertama dan keTIGAnya adalah ALIF
– huruf terakhirnya adalah Ta Marbuthah

seperti ini:
اقامة

maka bacaannya adalah : iqaamatun atau iqaamah

demikian juga dengan kata-kata di bawah ini:
اجارة, اجازة, ارادة, اشارة, امامة, امارة,

bacanya jangun ragu, pasti begini:
ijaarah
ijaazah
iraadah
isyaarah
imaamah
imaarah

~~~
~~~

Sila tebar manfaat ilmu ini.

Wassalaam

 

ILMU KOQ DIJUAL

Mungkin biasa kita temukan pertanyaan ini “ilmu koq dijual sih?”, saat melihat ada kursus bahasa Arab yang mencantumkan informasi program dan biayanya.

Ini, sebetulnya, pertanyaannya saja sudah salah. Dan penanya sendiri, tidak tahu kenapa dia bertanya seperti itu. Karena, sebetulnya, intinya, ia ingin belajar gratis. Dan gratis pun belum tentu ia akan rajin hadir.

Karena sudah sejak zaman old, yang namanya kegiatan belajar mengajar itu menetapkan iuran. Ikutilah program TKA/TPA, ada kan biaya nya? Masuk Madrasah Ibtidaiyyah, ada juga kan biayanya? Kemudian lanjut ke MTs, MA, hingga Fakultas-fakultas agama Islam, semua ada bayarannya kan? Kenapa pertanyaan serupa tidak diajukan ke lembaga-lembaga penyelenggara itu.

Lihat saja buku-buku yang membahas tentang agama Islam, mulai dari tafsir, hadits, fiqh, siroh, dll. Semuanya harus dibeli bukan? Kenapa tidak ditanyakan kepada produsen, penerbit, hingga penjualnya “ilmu koq dijual?”.

Mungkin Anda akan mengelak “iya, itu kan sekolah, itu kan kampus, itu kan buku, wajar dong kalau ada bayaran.” Lantas apa bedanya? Bukankah sama-sama menyebar ilmu.

Nah, di sini diperlukan adanya kejernihan berfikir. Bahwa yang dibayar itu bukan ilmunya. Karena ilmu, mau dibayar sebesar apapun, tetap takkan sebanding dengan ilmu itu sendiri. Ingin ditimbang dengan emas seluas kolam pun ilmu tetap jauh lebih berharga. Yang dibiayai itu bukan ilmunya, namun metodenya, manajemennya, fasilitasnya, kompensasi waktu yang disediakan oleh para pengajarnya.

Kalau Anda ketemu seorang guru bahasa Arab, lalu bertanya-tanya tentang berbagai hal mengenai bahasa Arab, mana mungkin itu berbayar. Kalau Anda kirim WA, dan bertanya tentang suatu bab dalam bahasa Arab yang Anda tidak mengerti, itu mana ada tarifnya.

Jadi, kalau benar-benar ingin serba gratis, dan tak keluar dana sepeser pun, lakukan cara ini:

  1. Download materi-materi pelajaran bahasa Arab di internet
  2. Print out bahan-bahan itu.
  3. Baca dan fahami sendiri isinya.
  4. Jika ada isi yang membingungkan, segera tanya pada yang lebih faham.
  5. Pinjam buku-buku bahasa Arab dari teman. Baik buku teori, maupun buku bacaan. Lalu foto copy buku-buku itu.
  6. Praktekkan teori yang Anda pelajari tadi melalui buku-buku teman yang sudah Anda copy itu.
  7. Setiap ada kajian yang diisi oleh Syaikh dari Arab, hadirilah. Untuk semakin menguatkan dan membiasakan pemahaman Anda terhadap bahasa Arab.
  8. Setiap ada training, seminar, atau program apapun yang gratisan, bergegaslah untuk menghadirinya. Jangan banyak alasan. Karena bukankah, itu agenda yang paling Anda tunggu. 🙂

Begitu seterusnya. Download lagi materi-materi baru dari internet, pinjam lagi buku-buku baru teman Anda, dan hadiri lagi kajian-kajian berbahasa Arab. Maka Anda akan memiliki kekayaan pemahaman yang terus bertambah. Terus meningkat. Dan itu Anda dapatkan secara gratis.

Eh, tapi tunggu dulu. Rupanya ada yang tidak gratis: biaya internet, biaya foto copy, dan biaya naik angkot ke lokasi pengajiannya Syaikh, biaya beli pulsa atau quota untuk memudahkan tanya jawab ke teman yang sudah pintar bahasa Arab.

Tapi mudah-mudahan aja tukang internet, penjual pulsa, tukang foto copy, supir angkot, itu bisa diajak bicara baik-baik “bang, demi ilmu nih, jangan dijual dong. Gratis ya”.

 

BISA DINEGO

Sering kami katakan, bahwa modal dasar untuk sukses belajar bahasa Arab itu adalah KEMAUAN dan KEISTIQOMAHAN. Sebab, kalau sudah tidak MAU belajar, dan tidak ISTIQOMAH belajar, maka modal-modal lain, sebesar apapun takkan berguna. Sebaliknya, kalau MAU dan ISTIQOMAH, perkara-perkara lain yang sekilas nampak berat, akan terasa sangat mudah.

Misalnya soal biaya. Jika Anda sudah benar-benar ingin belajar bahasa Arab, dan sudah bertemu wadah, metode, dan pengajar yang cocok, maka segeralah mendaftar. Mengenai biaya, lakukan 3 cara ini:

  1. Kalau punya dana, jangan ragu untuk menyerahkan biayanya.
  2. Kalau dana minim, minta dispensasi untuk mengangsurnya. Atau minta discount.
  3. Kalau benar-benar tidak ada ada, untuk keperluan sehari-hari aja susah, maka ajukan diri untuk memberi kompensasi lain. Seperti misalnya, Anda menawarkan diri untuk menjadi asisten pengajar, staff administrasi, marketing, dll.

Jangan langsung memutuskan mundur sendiri. Ini kan sama-sama mencari kebaikan dan manfaat. Jadi, semuanya pasti bisa dibicarakan. Bisa dinego.

Menunggu-nunggu dan menanti-nanti ada kiriman wadah kursus dari langit yang segala sesuatunya sesuai selera Anda, ini hanyalah angan-anagan kosong.

Posisikan semuanya sebagai tantangan. Dan hanya tantanganlah yang dapat membuat kita semakin kuat. Bahkan, yang sangat ideal adalah: tempat kursus jauh dan biayanya mahal. Kalau ini berhasil Anda lewati, maka satu pintu sukses besar sudah terbuka lebar.

Kalau tidak menantang, biasanya males-malesan. Betapa kecewanya seorang guru, setelah semua dipermudah, biaya dipermudah, fasilitas dipermudah, materi bahasan juga dipermudah, tapi Anda tidak rajin hadir.

Ayo, cari kursus bahasa Arab. Jangan lagi banyak mikir soal biaya. Karena, semua bisa dinego. 🙂

PRODUKSI DALIH, BAHASA ARAB PUN MENJAUH

Kita diciptakan untuk menjadi pemenang. Bukan pecundang. Kita terlahir untuk menaklukkan. Bukan ditaklukkan. Kita tumbuh besar menjadi dewasa agar kita cerdas mencari dalil-dalil (argumentasi) yang membuat kapasitas diri kita semakin matang dan meningkat. Bukan sebaliknya, piawai memainkan dalih-dalih alias alasan dan alibi yang membuat stagnan keterampilan kita dalam mengembangkan kehidupan.

Syahdan, ada seorang pemuda, dan menyandang status sebagai mahasiswa. Yang juga punya ‘nasib’ yang sama layaknya mahasiswa lainnya. Kiriman uang dari orang tua sangat pas-pasan. Bahkan minus. Hari-hari harus bergulat dengan kesibukan kuliah (masuk kuliah, tugas, dll, hingga skripsi).

Namun, realitas itu ia sulap menjadi pemicu yang membangkitkannya. Bukan malah dijadikan peninju yang merobohkannya. Ia pun menata hidup dengan baik. Pintu-pintu kesuksesan ia ketuk satu-satu. Gelar sarjanapun diraihnya. Keterampilan retorika dan pidato pun ia dapatkan. Pengalaman organisasi pun ia rengkuh. Dan, kemahiran bahasa Arab pun ia meninggalkan rekan-rekannya yang lain. Ia jauh di depan.

Yang ingin juga diceritakan di sini adalah, caranya mendobrak pintu-pintu sukses yang sulit terbuka. Yang rupanya tak cukup hanya diketuk. Saat sahaat-sahabatnya yang lain mengikuti kursus berbayar, ia tak punya anggaran. Namun ia tak kehilangan kecerdikan. Ia pinjam modul dan diktat dari sahabatnya yang kursus berbayar itu. Ia foto copy. Dan dipelajarinya sendiri. Berhasil. Ucap syukur dan puji hanya pada Allah tentu saja.

Nyaris setiap mahasiswa yang berlatar pesantren ditemuinya untuk bertanya bab-bab dalam bahasa Arab yang tak diketahuinya. Terus berlatih. Bolak-balik kamus. Buka-tutup kitab. Corat-coret catatan. Berpindah-pindah guru dan tempat bertanya. Hingga kemampuan bahasa Arabnya jauh di atas sahabatnya yang lain yang justru mengikuti kursus berbayar.

Tulisan ini tidak sedang ingin menceritakan kehebatan seseorang. Tapi ingin menceritakan tentang kehebatan sesuatu yang bernama Tekad dan Istiqomah. Dan tak kenal menyerah.

Jika tekad dan istiqomah sudah ada, maka atas izin Allah, takkan ada yang membendungmu lagi. Anda tak mampu beli buku, bisa pinjam. Tak bisa ikut kursus berbayar, bisa mencari kursus yang gratis. Tak bisa bayar kursus yang berbayar, tapi cocok dengan metodenya, bisa minta dispensasi dan Anda tinggal beri kompensasi dalam bentuk lain. Disibukan oleh kuliah dengan seabrek tugasnya, Anda bisa perkuat manajemen waktu.

Intinya, jangan terlena dalam memproduksi dalih, yang membuat kita malah tak bisa maju. Bahasa Arab itu mudah. Bahasa Arab sudah menyatu dalam lisan kita. Bahasa Arab ada di sekitar kita. Guru dan kursus bahasa Arab beraneka ragam bertebaran di mana-mana. Jika potensi dan peluang besar ini tak membuat kita maju, yang salah bukan siapa-siapa. Tapi kita sendiri.

Ayo Bung, bahasa Arab ada di sekitar kita. Tinggal kita genggam. Jangan malah menjauh.

 

Berinfaq, Membantu Kemudahan Memahami Bahasa Arab

Semua orang yang belajar Bahasa Arab, baik level pemula, hingga level tertinggi, pasti pernah menjumpai kesulitan sesuai level masing-masing.

Secara umum, jika ada kendala pemahaman, akan terbantu oleh keberadaan guru. Ajukan pertanyaan, dan gurupun akan menjawab.
Satu-satunya kendala pemahaman yang takkan terpecahkan adalah ketika merasa tidak paham, lalu berhenti belajar.

Selain memecahkan masalah-masalah pemahaman materi Bahasa Arab di ruang kelas, atau bertanya kepada guru di luar kelas, bisa juga memecahkan permasalahan selain cara yang lazim, misal dengan cara berinfaq. Sekilas tidak nyambung antara infaq deengan pemahaman. Tapi begitulah faktanya.

Adalah seorang Khalaf bin Hisyam rahimahullah, asal Bagdad, Irak, yang hidup antara tahun 150 H – 229 H. Salah satu generasi Tabi’ut Tabi’in.

Para periwayat Hadits banyak mengambil hadits melalui jalur beliau. Seperti Imam Muslim, Abu Daud, Abu Hatim, Abu Ya’la, dan lain-lain.
Suatu ketika beliau mendapati kesulitan memahami satu bab dari ilmu Nahwu. Beliaupun lantas berinfaq sebesar 80 Ribu Dirham. Kurs Rupiah terhadap Dirham Perak saat ini rata-rata sekitar Rp 60.000 an. Berarti infaq Khalaf bin Hisyam sebesar Rp 4.800.000.000 alias Rp 4,8 M.
Hamdan bin Hani’ al Muqri, pernah menceritakan “Aku pernah mendengar (Khalaf bin Hisyam) mengatakan:

أشكل عليَّ بابٌ من النحو, فأنفقتُ ثمانين ألف درهم حتى حذقته
“Terasa sulit bagiku suatu bab dari ilmu Nahwu, kemudian aku berinfaq 80 ribu dinar, hingga aku memahaminya”

 

Jadi kalau ada program Bahasa Arab yang Anda ikuti, dengan biaya yang tidak sampai miliaran, itu tidak pantas mengeluh. Apalagi hanya belasan atau puluhan ribu per-tatap muka. Sebaliknya harus bersemangat menyerahkan biayanya. Anggap saja itu infaq. Atau di luar biaya yang ditetapkan, Anda bisa berinfaq lagi sebagai tambahannya. Karena, manfaatnya, akan kembali ke Anda sendiri.

Termasuk, bagi yang diamanahi Allah rezeki yang lebih, apalagi jumlah rezeki sudah melebihi yang diinfaqkan Khalaf bin Hisyam, maka jangan pikir panjang lagi. Segera bentuk kelompok kursus bahasa Arab, sekaligus ikut di dalamnya sebagai peserta. Donasikan harta sebagai beasiswa bagi seluruh peserta kelompok itu. Semoga dengan begitu, Anda dimudahkan untuk memahami bahasa Arab.

Namun tentu harus dibarengi dengan ketekunan belajar juga. Banyak berinfaq tapi tidak tekun belajar, juga susah.
Tentu yang lebih bermasalah, kalau belajar kurang tekun, infaq pun ragu-ragu. Bisa double hambatannya dalam pemahamannya.

TIPS AGAR PENGUSAHA BISA BAHASA ARAB SEUMUR HIDUP

Suatu ketika ada seorang pengusaha yang bertanya, “apakah saya harus libur sebulan penuh untuk memperdalam bahasa Arab?”

Jawabannya ada dua:

Pertama. Dari segi usia bahwa usia kita bukanlah lagi berada pada periode usia belajar sebagaimana halnya anak-anak.

Ada pola belajar berbeda antara kita dan anak-anak, dari segi penentuan waktu belajar. Kalau anak-anak tinggal di pondok, jangankan 1 bulan, bahkan 1 – 6 tahun pun mereka bisa. Karena mereka memang sedang berada pada periode usia belajar seperti itu.

Seusia kita, apalagi sudah punya kesibukan harian sebagai pengusaha, tentu akan kesulitan untuk menyediakan waktu. Jangankan 1 bulan atau hitungan tahun, sedangkan satu minggu saja mungkin agak susah. Bahkan satu hari full seminggu sekali saja mungkin susah. Itu pengalaman kami ketika mengadakan program bahasa Arab.

Tapi kalau memang itu mau dilakukan juga tidak ada masalah. Tinggal mencari waktu & lembaga yang cocok dan metode yang menjawab kebutuhan bahasa Arab.

Namun ada poin yang Kedua yang perlu dijelaskan…
Bahwa usia kita yang sudah punya kesibukan atau rutinitas sehari-hari seperti ini, entah sebagai pengusaha, ibu rumah tangga, pegawai, karyawan, buruh, atau apa pun itu, justru sebetulnya yang lebih tepat itu adalah program intensif tapi jangkanya panjang.

Misalnya pertemuan seminggu sekali atau dua kali atau tiga kali. Sekali pertemuan bisa 1 atau 2 jam. Yang penting bisa di langsungkan jangka panjang. Bukan lagi tahunan, tapi bahkan seumur hidup.

Ini lebih efektif untuk dikembangkan dan dijalankan. Jadi, satu sisi kita tidak sama sekali mengurangi aktivitas atau profesi rutin yang sudah kita jalankan, saat yang sama kemampuan bahasa Arab kita juga dapat berkembang.

Kelemahan dari program mondok seperti 1 bulan full itu, adalah karena kita betul-betul jauh dari aktivitas atau kesibukan yang lain-lain.
Jadi hanya satu bulan itu saja kita terkondisikan untuk belajar bahasa Arab. Begitu sudah selesai program satu bulan, ada semacam shock culture, atau keterkejutan budaya.
Kita serba bingung bagaimana agar pola belajar yang satu bulan itu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah aktivitas kita bekerja, berkeluarga, sekolah, kuliah, bertani, berladang, dan lain sebagainya.

Penguasaan bahasa Arab yang sudah kita dapatkan selama satu bulan itu akan hilang ketika bergumul lagi dengan kegiatan sehari-hari.

Ini sering terjadi pada kawan-kawan yang mengikuti program seperti itu. Jangankan yang cuma mondok 1 bulan. Sedangkan yang mondok selama bertahun-tahun pun, begitu selesai dari Pondok, lalu terjun dalam kehidupan sehari-hari akhirnya disibukkan oleh kegiatan tersebut yang tidak ada sangkut pautnya dengan bahasa Arab. Kemampuan bahasa Arabnya pun hilang, luntur, atau banyak lupanya.

Jadi memang lebih bagus adalah program yang intensif dan rutin hanya beberapa kali seminggu dengan durasi beberapa jam tiap pertemuannya, tapi berlangsung seumur hidup.

Pembagiannya bisa seperti ini:
1. Belajar tata bahasa Arabnya disusun kurikulumnya selesai 6 bulan.

2. Prakteknya dan penerapan bahasa Arabnya dilakukan seumur hidup.

Ini sangat logis. Karena setelah bahasa Arab kita kuasai, kan kita harus membaca referensi berbahasa Arab dalam bidang Fiqih, Aqidah, dan lain-lain, sampai kemudian buku tentang politik, ekonomi, bahkan bisnis dalam bahasa Arab, juga kitab-kitab dakwah, dll.

Buku-buku itu tentu tidak akan habis dibaca selama setahun apalagi kalau mau dikaji dalam majelis kajian, itu bisa seumur hidup baru selesai dikaji. Bahkan bisa jadi usia kita sudah habis, kitab-kitab berbahasa Arab itu belum tentu selesai dikaji.

Nah, itulah program dan pola yang sangat kami rekomendasikan.
Belajar tatabahasa Arab sekian bulan, selanjutnya penerapan praktek Bahasa Arab pada kitab-kitab yang bisa dibedah seumur hidup. Setiap khatam satu kitab, pindah ke kitab yang lain dan itu dilangsungkan seumur hidup.

Ikuti komunitas yang menyelenggarakan program seperti itu. Insyaallah akan lebih efektif buat kemampuan bahasa Arab kita sekaligus menjaga kemampuan bahasa Arab itu agar tidak hilang sampai akhir hayat kita.