Kita diciptakan untuk menjadi pemenang. Bukan pecundang. Kita terlahir untuk menaklukkan. Bukan ditaklukkan. Kita tumbuh besar menjadi dewasa agar kita cerdas mencari dalil-dalil (argumentasi) yang membuat kapasitas diri kita semakin matang dan meningkat. Bukan sebaliknya, piawai memainkan dalih-dalih alias alasan dan alibi yang membuat stagnan keterampilan kita dalam mengembangkan kehidupan.

Syahdan, ada seorang pemuda, dan menyandang status sebagai mahasiswa. Yang juga punya ‘nasib’ yang sama layaknya mahasiswa lainnya. Kiriman uang dari orang tua sangat pas-pasan. Bahkan minus. Hari-hari harus bergulat dengan kesibukan kuliah (masuk kuliah, tugas, dll, hingga skripsi).

Namun, realitas itu ia sulap menjadi pemicu yang membangkitkannya. Bukan malah dijadikan peninju yang merobohkannya. Ia pun menata hidup dengan baik. Pintu-pintu kesuksesan ia ketuk satu-satu. Gelar sarjanapun diraihnya. Keterampilan retorika dan pidato pun ia dapatkan. Pengalaman organisasi pun ia rengkuh. Dan, kemahiran bahasa Arab pun ia meninggalkan rekan-rekannya yang lain. Ia jauh di depan.

Yang ingin juga diceritakan di sini adalah, caranya mendobrak pintu-pintu sukses yang sulit terbuka. Yang rupanya tak cukup hanya diketuk. Saat sahaat-sahabatnya yang lain mengikuti kursus berbayar, ia tak punya anggaran. Namun ia tak kehilangan kecerdikan. Ia pinjam modul dan diktat dari sahabatnya yang kursus berbayar itu. Ia foto copy. Dan dipelajarinya sendiri. Berhasil. Ucap syukur dan puji hanya pada Allah tentu saja.

Nyaris setiap mahasiswa yang berlatar pesantren ditemuinya untuk bertanya bab-bab dalam bahasa Arab yang tak diketahuinya. Terus berlatih. Bolak-balik kamus. Buka-tutup kitab. Corat-coret catatan. Berpindah-pindah guru dan tempat bertanya. Hingga kemampuan bahasa Arabnya jauh di atas sahabatnya yang lain yang justru mengikuti kursus berbayar.

Tulisan ini tidak sedang ingin menceritakan kehebatan seseorang. Tapi ingin menceritakan tentang kehebatan sesuatu yang bernama Tekad dan Istiqomah. Dan tak kenal menyerah.

Jika tekad dan istiqomah sudah ada, maka atas izin Allah, takkan ada yang membendungmu lagi. Anda tak mampu beli buku, bisa pinjam. Tak bisa ikut kursus berbayar, bisa mencari kursus yang gratis. Tak bisa bayar kursus yang berbayar, tapi cocok dengan metodenya, bisa minta dispensasi dan Anda tinggal beri kompensasi dalam bentuk lain. Disibukan oleh kuliah dengan seabrek tugasnya, Anda bisa perkuat manajemen waktu.

Intinya, jangan terlena dalam memproduksi dalih, yang membuat kita malah tak bisa maju. Bahasa Arab itu mudah. Bahasa Arab sudah menyatu dalam lisan kita. Bahasa Arab ada di sekitar kita. Guru dan kursus bahasa Arab beraneka ragam bertebaran di mana-mana. Jika potensi dan peluang besar ini tak membuat kita maju, yang salah bukan siapa-siapa. Tapi kita sendiri.

Ayo Bung, bahasa Arab ada di sekitar kita. Tinggal kita genggam. Jangan malah menjauh.