Ustadz Dhani, Instruktur Bahasa Arab dari Tanah Sunda Hingga ke Bumi Anoa

Ana memahami pentingnya bahasa Arab semenjak ana kenal dengan teman teman ana yang shaleh, para aktivis dakwah sekolah (anak anak ROHIS). Kalau gak salah sekitar tahun 2000an. pada waktu itu ana masih kelas 3 SMU di sebuah kota kecil bernama Garut. Ana diajak mengkaji Islam lebih mendalam lagi mulai dari akidah, ibadah dan syariah. Pada waktu itu ana tertarik dan ternyata mereka mengkaji Islam langsung dari kitab-kitab berbahasa Arab. Dari sanalah ana tertantang belajar bahasa Arab.

Banyak upaya yang telah dilakukan untuk mempelajari bahasa Islam ini, diantaranya adalah belajar dari guru ngaji ana yaitu ust Rana Dariyana, S.Ag. ustadz lulusan IAIN Sunan Gunung Dati Bandung. Pada waktu itu beliau menggunakan kitab al Ajurumiyah karya Syeikh Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Ash Shanhaji. Atau dikenal dengan Ibnu Ajurum. Pada waktu itu hanya bertahan sebentar, hanya beberapa pertemuan dikarenakan banyak pesertanya yang berhenti. Tidak lama kemudian ikut lagi kajian bahasa Arab bersama guru yang sama, dengan kelompok yang berbeda lagi, dengan kitab panduan yang berbeda. Kali ini menggunakan kitab al Muyassar-nya ust Aceng Zakariya. Beliau adalah salah satu tokoh PERSIS (Persatuan Islam). Tapi lagi-lagi kitab tersebut berbahasa Arab. Ana yang punya background sekolah umum, tentunya masih sangat kesulitan memahami bahasa Arab langsung dari kitab berbahasa Arab. Kajian tersebut sempat berjalan lama, tapi sekali lagi karena satu dan lain hal tidak selesai.

Semangat untuk mengkaji Islam dan bahasa Arab masih menggelora. Akhirnya dikarenakan keterbatasan guru bahasa Arab yg ana kenal, maka ana coba coba untuk melakukannya secara autodidak. Tapi karena keterbatasan dana, dan referensi yang ana punya ana merasa kadang semangat kadang juga jenuh, “mumet” kalo orang jawa bilang, karena tidak tahu harus dari mana memulai belajarnya. Kebetulan setelah itu sekitar tahun 2007an ada yang nawari pesantren gratis di daerah Jawa Tengah, tepatnya di daerah Klaten. Sebuah pesantren yang fokus utamanya sebenarnya adalah wirausaha dan agrobisnis. Tapi yang namanya pesantren pasti ketemu deh dengan bahasa Arab. Alhamdulillah lewat bimbingan ust Faiz ana dapat belajar bahasa Arab kembali. Dan ada sedikit gambaran mengenai bahasa Arab. Mungkin dikarenakan waktu nyantri yang terlalu singkat hanya 1 tahunan yang membuat ana belum menguasai betul bahasa Arab. Pada waktu itu masih belum bisa mensinkronkan antara sedikit teori yang ana punya dan praktek langsung dalam kajian kajian kitab berbahasa Arab.

Sekitar tahun 2009 ketika ana merantau di Cilegon, Banten, ana mendapatkan informasi ada training bahasa Arab gratis yangg diselenggarakan di Pekan Baru Riau 1 bulan full selama bulan Ramadlan yang diselenggarakan ust Zamrani Ahmad. Di sinilah ana kenal sama beliau. Di sinilah ana memahami bahasa Arab itu bukan hanya penting tapi urgent dan wajib untuk dipelajari. Peserta training ternyata bukan hanya orang Sumatera tapi ada juga orang Papua, Kalimantan, Jawa Tengah, dan lain-lain. Walaupun ana menjalani training tersebut tapi tetap aja ana belum menguasai bahasa Arab. Berbeda dengan teman-teman yang lainnya yang lebih unggul bahasa Arabnya dibanding ana. Mungkin bisa dikatakan TELMI (telat mikir) kali. Tapi dikarenakan pada waktu itu syarat ikut training adalah wajib ngajar pasca training dengan mewakili propinsinya masing-masing; pada waktu itu ana mewakili Banten, maka dengan terpaksa ana harus mencari “kelinci percobaan” untuk dijadikan “tumbal” untuk menunaikan kewajiban tersebut. Dan alhamdulillah ada beberapa yang mau bahkan mereka bersedia membayar upah per-pertemuan yang cukup lumayan pada waktu itu untuk ukuran guru pemula yakni Rp. 50 000 per peserta per pertemuan. Alhamdulillah beruntung pada waktu itu ada kajian bahasa Arab di daerah serang yang diselenggarkan oleh Kiyai Yasin Muthahar pimpinan pesantren al Abqariy dengan metode QA’IDATIYnya. Dari sana ana dapat tambahan ilmu tentang bahasa Arab. Buku QA’IDATIY inilah yang pertama ana jadikan pedoman untuk mengajar bahasa Arab. Ana ajarkan bab per bab. Alhamdulillah peminat bahasa Arab setelah itu makin bertambah dan melalui bimbingan dua guru ana yaitu ust Zamroni Ahmad dan ust Yasin Muthahar ana semakin PD (Percaya Diri) untuk mengajar walaupun dengan ilmu yang masih terbatas.

Seiring dengan berjalannya waktu ust. Zamrani beliau mengembangkan metode AFLAT, sebuah metode pembelajaran bahasa arab dengan waktu yang sangat singkat hanya satu hari dengan uslub training motivasi. Sempat pada waktu itu beliau minta ana untuk mengadakan training bahasa arab di Banten. Dan alhamdulillah pada waktu itu direspon dan terselenggara kalau gak salah di sekolah Insantama serang. Responnya peserta pada waktu itu cukup antusias. Makin hari metode tersebut makin booming beliau banyak diundang di berbagai daerah di banyak propinsi termasuk di negara jiran Malaysia. Alhamdulillah di beberapa kesempatan yaitu di Bekasi, Bandung, Bogor dan Jakarta ana diundang oleh beliau untuk menghadiri training beliau dan diberi peran walaupun hanya sebagai operaror netbook untuk mengatur slide ppt. Beliaulah yang terus mendorong ana untuk terus mengajar bahasa Arab sampai menjadikan ana hobi mengajar bahasa Arab sekalipun tidak dibayar. Dari mengajarlah kemampuan bahasa Arab ana terus berkembang. Bahkan bisa merumuskan metodologi pembelajaran sendiri yang agak berbeda dari guru ana sebelumnya. Jadi ana termasuk bisa bahasa Arab karena mengajar. Seiring berjalannya waktu ana diminta untuk mem-follow up-i training bahasa Arab AFLAT yakni membimbing peserta sampai mahir bahasa Arab. Pada waktu itu ana mengisi beberapa kelompok di Bogor dan di Tangerang Selatan. Dikarenakan sempat sakit maka ana balik kampung ke Sumedang, Jabar. Alhamdulilah di sana pun ana masih menyempatkan untuk mengajar bahasa Arab meskipun sekedar sampingan. Beriringan waktu alhamdulillah ana masih diberikan kesempatan oleh beliau untuk mengajar di lembaga bahasa Arab di tempat yang cukup jauh dari kampung halaman yakni di bumi anoa Sulawesi Tenggara. Ma’had bahasa arab yang merupakan cabang ma’had di Bogor dengan nama Ma’had Syaraful Haramain yang fokus utamanya adalah membentuk ulama tangguh dan ideologis di kalangan masyarakat umum. Ana memegang peran sebagai pengajar di kelas i’dadiy persiapan bahasa Arab baik lisan maupun tulisan, supaya para santri siap memasuki jenjang berikutnya yaitu kelas Dirasah Islamiyyah yakni mengkaji ushul fiqih, ulumulquran, ulumulhadits, tafsir, dan lain sebagainya dengan merujuk langsung di kitab berbahasa Arab dengan bahasa pengantar bahasa Arab. Alhamdulillah kemampuan bahasa Arab ana makin bertambah bukan hanya membaca dan menerjemahkan kitab tapi juga sedikit demi sedikit bisa juga bicara dan mengarang cerita berbahasa Arab. Saat ini telah berlangsung lebih dari satu tahun, insya Allah tahun ini selesai. Mudah mudahan ke depannya ghirah masyarakat terhadap bahasa Arab makin hari makin bertambah. Dan cita-cita untuk meratakan Nusantara dengan bahasa Arab mendapatkan titik terang. Dan mohon do’anya Insya Allah ana menjadi bagian dari cita-cita tersebut. Aamiin

Seperti yang dituturkan Langsung Ustadz Dhani Fathoni

Bahasa Arab Wasilah Perjodohan Abu Sofea di Negeri Jiran

Mempelajari bahasa Arab merupakan perkara yang sangat urgen. Kesadaran akan agamalah yang mendorong saya belajar mempelajari bahasa Nabi kita, bahasa para sahabat Rasul, yang mana dengan bahasa Arablah Islam tersebar hingga sampailah kepada kita. Sebab bahasa Arab adalah bahasa Alquran. Itu salah satu motivasi saya belajar bahasa Arab yang mana mula-mula saya mulai belajar intensif di salah satu ma’had di Bandung yaitu Ma’had al-Imarat tempat belajar bahasa Arab dan kajian Islam.

Saya mulai ikut saringan masuk tujuannya untuk mengetahui sampai dimana kemampuan bahasa kita. Maklum saja sebelumnya saya pernah belajar dasar-dasar Nahwu dan Shorof di beberapa pesantren, tapi ternyata tetap tidak meningkatkan kemampuan bahasa saya. Setelah umur tidak lagi muda saya baru tersadarkan akan hal itu. Pada masa itu umur saya sudah 24 tahun yang mana sudah tidak ideal sebenarnya untuk belajar intensif karena fikiran sudah banyak bercabang diantaranya mau menikah…

Alhamdulillah saya diterima masuk Ma’had al-Imarat di level Tamhidi yang mana itu level untuk beginer (pemula). Kesulitan-kesulitan di awal ada juga meskipun ini level dasar sebab salah satu sebab kita mengalami kesulitan antara lain kita tidak mau berusaha mempraktekannya di samping mengahafal dan mempraktekkan mufradat serta ungkapan-ungkapan bahasa Arab melalui uslub-uslub percakapannya.

Sama seperti bahasa lainya pada umumnya, kemampuan bahasa kita tidak terlepas dari 4 unsur utama yaitu kalau dalam bahasa inggris disebut listening, speaking, reading dan writing. Dalam bahasa arab pun sama yaitu as sima’, al qiraah, al kalam dan al kitabah.

Kemahiran berbahasa ini mesti dikuasai sehingga memudahkan kita untuk mengikuti tahapan selanjutnya dan alhamdulillah melalui institusi pendidikan tersebut saya berhasil melaluinya dan dapat lulus mumtaz (nilai terbaik) sampai akhir. Itu semua karena dorongan keyakinan dan kecintaan kita kepada Islam sehingga berupaya mau meng-upgrade level keilmuan kita, sebab bahasa Arab merupakan kunci dalam mengkaji disiplin ilmu-ilmu Islam yang lain seperti Alquran, hadits, tafsir, aqidah, dan lain-lainnya.

Kesimpulannya dalam mempelajari bahasa Arab kita mestinya sentiasa berinteraksi dengan Alquran, belajar di satu tempat khas sama ada (sama saja, red.) online atau offline yang terpenting kita membiasakannya, sebab bahasa adalah kebiasaan sehingga kita mesti mau meluangkan waktu setiap hari belajar dengan kawan. Jangan sendirian, nanti susah meningkatkan kemmapuannya.

Saya harap kelak bahasa Arab ini menjadi salah satu wasilah dalam mempersatukan umat Islam. Sehinnga mereka sama-sama mengambil perhatian akan urgensi bahasa Arab sebagai kekuatan Islam dan umat. Diantara sebab kemunduran umat Islam ini antara lain mereka meninggalkan perkara penting ini yang mana bahasa Arab ini merupakan salah satu syarat ijtihad. Sehingga apabila mereka melalaikan bahasa Arab, sama saja mereka melalaikan ijtihad dalam syariat yang mana akan menjadikan sebuah kemunduran buat umat.
Satu lagi gara-gara wasilah bahasa Arab pulak saya dapat jodoh di negeri jiran.. hehe

 

*Seperti yang dituturkan langsung oleh Ustadz Abu Sofea pada redaksi

CUMA SATU

(Diambil dari kisah nyata)

Sebut saja namanya Anas (nama sebenarnya). Ketika hendak memutuskan akan mengikuti suatu program bahasa Arab, beliau maju mundur. Ragu. Ikut atau tidak.

Berkali-kali mengkonsultasikan niatnya itu pada calon gurunya.

Iapun bertanya “Apa syaratnya agar saya mahir bahasa Arab?”. Calon gurunya menjawab “Syaratnya Standar: Istiqomah”.

Dengan rasa penasaran, dan setengah tidak percaya dengan jawaban itu, iapun menegaskan kembali pertanyaannya “Cuma satu aja?”. Kembali sang calon guru pun menjawab “naaah, di satu itu yang justru banyak orang gugur”.

Anas pun paham, lalu mengatakan “terime kasihlah cikgu”. Beliau pun kemudian menjelma menjadi salah satu peserta kursus terbaik. Kini baca kitabnya pun telah pula lancar. Lebih PD beliau kini bergaul dan berinteraksi dengan para ulama di kotanya. Alhamdulillah

Apa gerangan rahasia Anas? CUMA SATU: Mendengar nasehat calon gurunya tersebut, agar melakukan CUMA SATU SYARAT saja, yaitu Istiqomah.

 

 

25012016

SELEMBAR KERTAS DARI USTADZ