Berinfaq, Membantu Kemudahan Memahami Bahasa Arab

Semua orang yang belajar Bahasa Arab, baik level pemula, hingga level tertinggi, pasti pernah menjumpai kesulitan sesuai level masing-masing.

Secara umum, jika ada kendala pemahaman, akan terbantu oleh keberadaan guru. Ajukan pertanyaan, dan gurupun akan menjawab.
Satu-satunya kendala pemahaman yang takkan terpecahkan adalah ketika merasa tidak paham, lalu berhenti belajar.

Selain memecahkan masalah-masalah pemahaman materi Bahasa Arab di ruang kelas, atau bertanya kepada guru di luar kelas, bisa juga memecahkan permasalahan selain cara yang lazim, misal dengan cara berinfaq. Sekilas tidak nyambung antara infaq deengan pemahaman. Tapi begitulah faktanya.

Adalah seorang Khalaf bin Hisyam rahimahullah, asal Bagdad, Irak, yang hidup antara tahun 150 H – 229 H. Salah satu generasi Tabi’ut Tabi’in.

Para periwayat Hadits banyak mengambil hadits melalui jalur beliau. Seperti Imam Muslim, Abu Daud, Abu Hatim, Abu Ya’la, dan lain-lain.
Suatu ketika beliau mendapati kesulitan memahami satu bab dari ilmu Nahwu. Beliaupun lantas berinfaq sebesar 80 Ribu Dirham. Kurs Rupiah terhadap Dirham Perak saat ini rata-rata sekitar Rp 60.000 an. Berarti infaq Khalaf bin Hisyam sebesar Rp 4.800.000.000 alias Rp 4,8 M.
Hamdan bin Hani’ al Muqri, pernah menceritakan “Aku pernah mendengar (Khalaf bin Hisyam) mengatakan:

أشكل عليَّ بابٌ من النحو, فأنفقتُ ثمانين ألف درهم حتى حذقته
“Terasa sulit bagiku suatu bab dari ilmu Nahwu, kemudian aku berinfaq 80 ribu dinar, hingga aku memahaminya”

 

Jadi kalau ada program Bahasa Arab yang Anda ikuti, dengan biaya yang tidak sampai miliaran, itu tidak pantas mengeluh. Apalagi hanya belasan atau puluhan ribu per-tatap muka. Sebaliknya harus bersemangat menyerahkan biayanya. Anggap saja itu infaq. Atau di luar biaya yang ditetapkan, Anda bisa berinfaq lagi sebagai tambahannya. Karena, manfaatnya, akan kembali ke Anda sendiri.

Termasuk, bagi yang diamanahi Allah rezeki yang lebih, apalagi jumlah rezeki sudah melebihi yang diinfaqkan Khalaf bin Hisyam, maka jangan pikir panjang lagi. Segera bentuk kelompok kursus bahasa Arab, sekaligus ikut di dalamnya sebagai peserta. Donasikan harta sebagai beasiswa bagi seluruh peserta kelompok itu. Semoga dengan begitu, Anda dimudahkan untuk memahami bahasa Arab.

Namun tentu harus dibarengi dengan ketekunan belajar juga. Banyak berinfaq tapi tidak tekun belajar, juga susah.
Tentu yang lebih bermasalah, kalau belajar kurang tekun, infaq pun ragu-ragu. Bisa double hambatannya dalam pemahamannya.

3 KESADARAN

Kalau sudah sadar akan 3 hal ini, niscaya takkan ada lagi yang menunda untuk belajar #bahasaArab.

1. Kesadaran bahwa bahasa Arab itu wajib. Imam Syafi’i mengatakan fardhu.
dan ingat, yang wajib itu bukan PINTAR nya. Tapi BELAJARnya.
dan juga, yang wajib dipelajari adalah bahasa Arab fushha, untuk keperluan tsaqofiyah.

2. Kesadaran bahwa bahasa Arab adalah bagian esensial dari Tsaqofah Islamiyah.
Tsaqofah adalah ilmu-ilmu pengetahuan yang berdasar Aqidah. Beda dengan sains, yang bebas nilai.
Tsaqofah itu bahan dasar untuk membangun peradaban.
Kalau Rasul shallallaahu ‘alayhi wa sallam minta kita untuk Thalabul ‘ilmi, itu adalah ilmu Tsaqofah. Dan bahasa Arab termasuk di dalamnya.

3. Kesadaran bahwa bahasa Arab adalah salah satu faktor kebangkitan.
Salah satu doktrin yang kami dapatkan di awal hijrah dulu, adalah bahwa “Ditinggalkannya bahasa Arab menjadi satu dari empat faktor kemunduran umat Islam”.
Lalu kami bermain logika, “apakah kurang antusiasnya kita dalam mempelajari bahasa Arab, adalah salah satu faktor penghambat kemajuan dan kebangkitan?” Boleh jadi.

 

05102017

Bahasa Arab Bukan Bahasa Asing

Bagi kita, Muslim di Nusantara bahasa Arab bukanlah bahasa asing.

Karena ia adalah bahasa pertama yang diperdengarkan pada setiap bayi muslim.

Karena ia adalah bahasa pertama yang diucap setiap muallaf.

Karena ia adalah satu-satunya bahasa yang kita tuturkan dalam mengiringi gerak-gerik ibadah kita.

Karena ia adalah satu-satunya bahasa yang terbanyak kita dengar bergema 5 kali sehari.

Karena ia adalah satu-satunya bahasa yang takkan sirna walau bumi telah sirna.

=======

9 mar 2015

Kami Juga Dahulunya Tak Bisa Bahasa Arab

Dahulu kami, sama sekali tak peduli dengan bahasa Arab.

Apalagi bisa diharapkan dapat membaca Teks Seperti di gambar ini.

Alhamdulillah, seiring dengan waktu, kami terus mengasah.
Dan akhirnya, tak lagi menemukan kesulitan dalam menerjemahkan teks-teks seperti itu.

Bukan karena Jenius, atau Cerdas.

Semata karena kami telah hanyut dalam indahnya bahasa Arab. Lalu bertekad, apapun kesibukan dan profesi kami, bahasa Arab akan tetap kami masukkan dalam skala prioritas hidup.

Hingga akhir hayat, insyaallaah.

Di situ tekad….kesungguhan….perhatian….dan juga kemudahan dari Allah….saling bertemu dan menemukan jalan suksesnya.

===========

Ini dia terjemahannya:

👇👇👇👇

Dahulu aku sempat bertanya-tanya (bimbang)–padahal aku sangat percaya akan apa yang dijanjikan Allah–bagaimana mungkin bidadari yang digambarkan dalam hadits “bahwa engkau dapat melihat sumsum betisnya di balik dagingnya, dan engkau dapat melihat air mengalir dari sebelah atas dadanya
kubertanya bagaimana itu bisa terjadi.

Namun Allah telah menciptakan di hadapan kita bukti-bukti (seperti ikan itu) yang menunjukkan betapa agung ciptaanNya…subhanah (Mahasuci Allah)

====

Semoga, dengan konsistensi menyimak materi dari kami (pada rubrik Pelajaran Hari Ini), akan menambah pengetahuan bahasa Arab tuan-tuan dan puan-puan semua….guna dapat dijadikan sebagai salah satu penambah bekal untuk berlatih.

👍👍👍

Bahasa Arab Bahasa Mulia

Lisan Arab Lisan Mulia

01042016

 

*kami tak menyebutkan sumber utama gambar yang tercantum, sebab kesulitan melacaknya.

MENGAPA HARUS BERHENTI?

Jika kita belajar bahasa apapun di luar bahasa Ibu kita, maka kita pasti akan mempelajari tiga hal ini sekaligus secara simultan dan dalam durasi waktu yang terukur:

1- Belajar mengenal Abjad atau Alphabet
2- Belajar membaca dengan benar (pronounciation)
3- Belajar memahami makna

Misalnya kita belajar bahasa Inggris.
1- Belajar mengenal Abjad atau Alphabet:

a, b, c, d, e, dan seterusnya

2- Belajar membaca dengan benar (pronounciation):

walking in the rain

dibaca: wolking in de rein

3- Belajar memahami makna

arti kalimat di atas adalah : berjalan di tengah hujan

Proses seperti ini biasanya memang berlangsung secara langsung. Tak tertunda.

Namun rasanya fakta berbeda terjadi dalam proses belajar bahasa Arab atau bahasa Alquran.

Mari kita ingat kembali….

1- Belajar mengenal Abjad atau Alphabet:

أ, ب, ت, ث, ج…….

Alif, Ba, Ta, Tsa, Jim dan seterusnya

2- Belajar membaca dengan benar (pronounciation):

يَمْشِي تَحْتَ المَطَرِ

bacaannya adalah: yamsyiy tahtal mathar

3- Belajar memahami makna

????????

Kebanyakan kita sudah menguasai keterampilan Mengenal Abjad / Alphabet dan Cara Membaca itu sudah sejak kanak-kanak.

Namun kita setelah tahu cara membaca (Alquran) tidak langsung diteruskan dengan belajar memahami makna.
Itu sebabnya hampir di semua lembaga belajar baca Alquran tingkat kanak-kanak dilangsungkan Wisuda bagi santri yang telah bisa baca Alquran. Karena dianggap sudah selesai proses belajarnya.

Padahal sebenarnya, baru bisa membaca adalah baru sebagian proses. Belum usai. Masih ada tahap ke tiga yakni MEMAHAMI MAKNA, yang justru ini merupakan hal terpenting dari proses belajar bahasa (Arab).

Yang terjadi juga, seringkali, jarak antara BISA MEMBACA dan MEMAHAMI makna terpaut cukup jauh.
Kita sudah bisa membaca Alquran di umur 10 tahun misalkan. Lalu kita baru belajar bahasa Arab lagi (untuk memahami makna Alquran) di umur 30 tahunan mungkin.

Ada apakah gerangan? Mengapa kita sering menghentikan proses belajar Bahasa Arab (Alquran) kita hanya sampai sebatas bisa Membaca saja?

Mari kita lanjut kembali cerita ini. Mari sambung kembali prosesnya. Tak ada kata terlambat.

Dan untuk anak-anak kita, kita tanamkan kebiasaan sejak dini untuk mencintai bahasa Arab. Jangan biarkan mereka menghentikan proses belajar Makna dari Bacaan Alquran yang mereka sudah kuasai.

6 Mei 2015

NON ARAB AHLI ARAB

Di gambar ini termaktub deretan nama Ulama Ahli Bahasa Arab yang paling Masyhur. Mulai dari Syaikh Abul Aswad Ad Du’aliy, Sang Penemu Penulisan Harokat, hingga Syaikh Syaikh Sibawaih (urutan kelima). Beliau dijuluki Abul Lughah….Bapaknya Bahasa Arab.

سيبويه هو العجمي وليس من العرب !

“Siabawaih adalah ‘Ajam (non Arab), bukan ‘Arab”

Membuktikan kalau seseorang yang asli lisannya bukan Arab bisa jadi pakar Bahasa Arab.

قال عمر بن الخطاب : تعلموا اللغة العربية فإنها تثبت العقل و تزيد المروءة

“Umar bin Khattab berkata: pelajarilah bahasa Arab, karena ia akan mengokohkan akal dan menambah kehormatan”

Siap-siap jadi orang cerdas dan bersahaja jika kita mau memperdalam Bahasa Arab.

سيبويه

Kata Sibawaiyh itu sendiri dalam bahasa Persia diartikan sebagai aroma apel merah

سيب : تفاحة
ويه : رائحة جيدة

Beliau seorang pakar Nahwu yang tidak diragukan lagi. Ya, penulis kitab yang berjudul “الكتاب”

Dikutip dan diperluan dari Channel telegram.me/NidaMS

SUMUR BAHASA ARAB

Menggali sumur…tak cukup hanya dengan satu kali galian, lalu berharap mata air menyembur.

Perlu beribu kali galian. Hingga menemukan mata air, yang entah di galian yang ke berapa.

Jangan berhenti menggali ,hanya karena tak temukan Air di GALIAN YANG BARU PERTAMA

Ingin menemukn mata air #bahasaArab…hingga memahaminya? Tak cukup hanya dengan 1 kali belajar lalu berhenti. Belajar pada seorang guru, kemudian tak kunjung faham, lalu berhenti.

Perlu hadir puluhan, ratusan, bahkan ribuan pertemuan. Pasti Allah beri kemudahan memahami…entah di pertemuan yang ke berapa

 

28092010

PERIODE MENANAM

Harus ada periode menanam, baru bisa menunggu masa memetik dan menuai.

Ingin mahir bahasa Arab juga demikian. Harus ada masanya, menanam dahulu.
Jangan berharap mau langsung memetik hasil belajar, padahal sedang berada di periode menanam.

Dan jangan coba-coba mengkhayalkan masa panen, jika tak pernah menanam.

Ayo tanam! Tanamkan kebiasaan-kebiasaan yg menjamin kesuksesan belajar bahasa Arab Antum.

 

HIJRAH LISAN

Selamat tahun baru 1439 Hijriah. Selamat menyusun target-target perubahan besar dalam hidup.

Targetkan juga untuk bisa bahasa Arab. Adapun soal target lama atau cepat, ngga masalah. Yang penting bertarget. Misalnya 5 tahun lagi bisa baca Kitab-kitab Arab, bisa baca Alquran dan Hadits dan faham isinya tanpa lihat terjemahan.

Atau ‘semales-malesnya’ atau ‘secuek-cueknya’ sama bahasa Arab, misalnya 20 tahun lagi lah…
Yang penting bertarget.

Kalau ngga ditarget, ngga akan ada kemajuan.

Jangan sampai, semua urusan ditarget.
Giliran bahasa Arab ngga bertarget sama sekali.

Katanya Yuk Hijrah. Katanya Pemuda Hijrah. Katanya Berani Hijrah.

Lisannya Hijrahkan juga atuh ya. Hijrah dari tidak biasa berLisan Arab menuju terbiasa berLisan Arab.

Mumpung masih Pemuda.
Masa ga berani ama bahasa Arab.
Yuk ah.

 

TAPI

Anak-anak udah liburan sekolah ya? Jadi kita, yang orang tua, sudah agak luang waktu untuk mengisi kekosongan dengan Latihan bahasa Arab ya. Tidak lagi terlalu disibukkan urus sarapan dan persiapan lain untuk keberangkatan sekolah, tidak lagi disibukkan dengan antar jemput dan urusan kepulangan anak-anak. Belum lagi ditambah urusan PR anak-anak.

“Oh, TAPI masih sibuk kerja”. Ok…ditunggu liburan akhir tahun aja kalau gitu.

“TAPI kami mahasiswa”. Ok…nanti janji ya pas liburan kita isi dengan latihan.

“TAPI, selama liburan mau jalan-jalan dulu”. Ok…nanti kalau sudah balik ke rumah aja ya kita proses bimbingan bahasa Arabnya.

============

Akan selalu ada waktu jika dialokasikan. Sebaliknya, takkan pernah ada waktu jika di-TAPI-kan.

============

Namun, TAPI bisa disulap menjadi kehebatan.

“Saya kerja, TAPI saya masih punya waktu 15 menit sehari untuk latihan”

“Saya kuliah, TAPI saya masih bisa sediakan 30 menit tiap pagi untuk baca pengarahan”

“Saya rempong sama urusan anak-ana, TAPI saya tunggu mereka tidur atau bermain untuk buka WA Group Bahasa Arab”

“Saya sibuk persiapan nikah, TAPI malu juga sama ca-mer kalau ketahuan ngga bisa baca kitab, udah telanjur dikenal jadi aktivis pengajian masalahnya”

“Saya baru habis married, TAPI indah juga kalau bulan madu diisi dengan kerjasama latihan bahasa Arab”….

“Saya sedang sibuk membangun bisnis, TAPI saya ini muslim yang harus belajar bahasa Alquran”

============

Kata TAPI nya mau menghasilkan apa, itu kitalah yang menetukannya.

 

23122015