ANGGARAN

Setiap kita harus punya anggaran belanja untuk segala keperluan hidup.Termasuk anggaran untuk thalabul ‘ilmi juga harus ada. Jangan sampai tidak. Bahkan ini mesti jadi prioritas. Itu jika kita masih meyakini bahwa Ilmu Adalah Pelita Hidup. Dan tentu, prinsip kita adalah Long Life Education. Minal Mahdi ilal Lahdi.

Demikian juga dengan bahasa Arab.

Nah, sekarang, siapkan anggaran, tentukan berapa saja jumlahnya. Lalu silakan konsultasikan dengan kami, Program apa yang bisa Anda ikuti dengan anggaran sejumlah yang telah Anda tentukan itu. Kami akan bantu untuk mengarahkan…kemana, dimana, dan bagaimana Anda harus belajar.

 

21022016

SANG PENJUAL PAKAIAN BEKAS

Michael Jordan, berkulit hitam, lahir pada tahun 1963, di daerah kumuh Brooklyn, New York. Ia memiliki empat orang saudara, sementara upah ayahnya yang hanya sedikit tidak cukup untuk menafkahi keluarga. Semenjak kecil, ia melewati kehidupannya dalam lingkungan miskin dan penuh diskriminasi, hingga ia sama sekali tidak bisa melihat harapan masa depannya.

Ketika ia berusia tiga belas tahun, ayahnya memberikan sehelai pakaian bekas kepadanya, “Menurutmu, berapa nilai pakaian ini?” Jordan menjawab, “Mungkin 1 dollar.” Ayahnya kembali berkata, “Bisakah dijual seharga 2 dollar? Jika engkau berhasil menjualnya, berarti telah membantu ayah dan ibumu.” Jordan menganggukkan kepalanya, “Saya akan mencobanya, tapi belum tentu bisa berhasil.”

Dengan hati-hati dicucinya pakaian itu hingga bersih. Karena tidak ada setrika untuk melicinkan pakaian, maka ia meratakan pakaian dengan sikat di atas papan datar, kemudian dijemur sampai kering. Keesokan harinya, dibawanya pakaian itu ke stasiun bawah tanah yang ramai, ditawarkannya hingga lebih dari enam jam. Akhirnya Jordan berhasil menjual pakaian itu. Kini ia memegang lembaran uang 2 dollar dan berlarilah ia pulang.

Setelah itu, setiap hari ia mencari pakaian bekas, lalu dirapikan kembali dan dijualnya di keramaian.

Lebih dari sepuluh hari kemudian, ayahnya kembali menyerahkan sepotong pakaian bekas kepadanya, “Coba engkau pikirkan bagaimana caranya untuk menjual pakaian ini hingga seharga 20 dolar?” Kata Jordan, “Bagaimana mungkin? Pakaian ini paling tinggi nilainya hanya 2 dollar.” Ayahnya kembali memberikan inspirasi, “Mengapa engkau tidak mencobanya dulu? Pasti ada jalan.”

Akhirnya, Jordan mendapatkan satu ide, ia meminta bantuan sepupunya yang belajar melukis untuk menggambarkan Donal Bebek yang lucu dan Mickey Mouse yang nakal pada pakaian itu. Lalu ia berusaha menjualnya di sebuah sekolah anak orang kaya. Tak lama kemudian seorang pengurus rumah tangga yang menjemput tuan kecilnya, membeli pakaian itu untuk tuan kecilnya. Tuan kecil itu yang berusia sepuluh tahun sangat menyukai pakaian itu, sehingga ia memberikan tip 5 dolar. Tentu saja 25 dollar adalah jumlah yang besar bagi Jordan, setara dengan satu bulan gaji dari ayahnya.

Setibanya di rumah, ayahnya kembali memberikan selembar pakaian bekas kepadanya, “Apakah engkau mampu menjualnya kembali dengan harga 200 dolar?” Mata ayahnya tampak berbinar.

Kali ini, Jordan menerima pakaian itu tanpa keraguan sedikit pun. Dua bulan kemudian kebetulan aktris film populer “Charlie Angels”, Farah Fawcett datang ke New York melakukan promo. Setelah konferensi pers, Jordan pun menerobos pihak keamanan untuk mencapai sisi Farah Fawcett dan meminta tanda tangannya di pakaian bekasnya. Ketika Fawcett melihat seorang anak yang polos meminta tanda tangannya, ia dengan senang hati membubuhkan tanda tangannya pada pakaian itu.

Jordan pun berteriak dengan sangat gembira, “Ini adalah sehelai baju kaus yang telah ditandatangani oleh Miss Farah Fawcett, harga jualnya 200 dollar!” Ia pun melelang pakaian itu, hingga seorang pengusaha membelinya dengan harga 1.200 dollar.

Sekembalinya ke rumah, ayahnya dengan meneteskan air mata haru berkata, “Tidak terbayangkan kalau engkau berhasil melakukannya. Anakku! Engkau sungguh hebat!”

Malam itu, Jordan tidur bersama ayahnya dengan kaki bertemu kaki. Ayahnya bertanya, “Anakku, dari pengalaman menjual tiga helai pakaian yang sudah kau lakukan, apakah yang berhasil engkau pahami?”

Jordan menjawab dengan rasa haru, “Selama kita mau berpikir dengan otak, pasti ada caranya.”

Ayahnya menganggukkan kepala, kemudian menggelengkan kepala, “Yang engkau katakan tidak salah! Tapi bukan itu maksud ayah. Ayah hanya ingin memberitahumu bahwa sehelai pakaian bekas yang bernilai satu dolar juga bisa ditingkatkan nilainya, apalagi kita sebagai manusia yang hidup? Mungkin kita berkulit lebih gelap dan lebih miskin, tapi apa bedanya? Tergantung bagaimana kita mendayagunakan potensi yang ada dalam diri kita masing-masing.”

Seketika dalam pikiran Jordan seakan ada matahari yang terbit. Bahkan sehelai pakaian bekas saja bisa ditingkatkan harkatnya, lalu apakah saya punya alasan untuk meremehkan diri sendiri?

Sejak saat itu, dalam hal apapun, Michael Jordan merasa bahwa masa depannya indah dan penuh harapan. Dia mengasah potensinya hingga akhirnya dia menjadi salah seorang pemain basket terhebat di dunia ini dan menjadi salah seorang atlet terkaya.

Semoga jadi inspirasi 🙏🙏🙏

 

(copas dr FB Irsun Anwar Badrun)

LANGSUNG DI DEPAN KA’BAH

Melihat gambar ini, kita memang tahu bahwa ini gambar Ka’bah.
Tapi kalau berdiri langsung di depan Ka’bah, tentu beda rasanya.

Membaca terjemahan Alquran memang kita sudah cukup mengerti isinya.
Tapi kalau mengerti langsung dari Teks Arabnya, tentu beda rasanya.

Memahami pesan Alquran, Hadits, dan Kitab-kitab para ulama, langsung dari teks Arabnya, tidak sama dengan kalau hanya baca terjemahannya,
seperti perbedaan antara melihat Photo Ka’bah dan langsung melihat Ka’bah.

Semoga semua yang baca ini dimudahkan untuk dapat hadir di hadapan Ka’bah, dan dimudahkan untuk berbahasa dengan bahasa Nabi yang lahir dan besar di sekitar Ka’bah.

Ammiin

06042016

Tak Berbahasa Arab Mestinya Gelisah

Kita bisa menghindar dari bahasa manapun. Tapi apakah bisa menghindar dari #bahasaArab?
Kita bisa saja tak berkata-kata dalam bahasa manapun dalam seharian.
Tapi apakah kita bisa jika dalam seharian tak ucapkan sepatah katapun bahasa Arab?
Bisa kah kita menghindar dari doa? Bisakah kita menghindar dari sholat? Bukankah itu semua berbahasa Arab?
Tak gelisahkah jika tak sholat & doa dalam seharian?